• id
  • en

 

 

Our Work

Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan adalah benang filament dan benang spun yang terdiri dari 100% Polyster, Rayon, CD, Nylon, Cotton serta kombinasi dari berbagai macam benang-benang tersebut. Bahan baku sebagian besar dibeli dari Supplier lokal dan sisanya dari Import.

Texturizing

Proses awal texturizing, dimana benang-benang filament diproses dalam suatu mesin dengan mendapatkan perlakuan temperature, tension, serta puntiran atau twist dalam waktu tertentu sehingga menghasilkan efek keriting, bulky elastis dan mempunyai crimp yang tinggi.

Twisting

Proses lanjutan setelah texturizing adalah twisting, dimana benang diberikan twist/puntiran dengan nilai puntiran tertentu (TPM) twist per meter yang menjadikan benang semakin kompak dan kuat, serta sifat lain sesuai dengan peruntukan design. Dalam proses ini dikenal 2 macam benang, low twist (< 450 tpm) dan high twist (> 450 tpm). Twist diantaranya berguna untuk memberikan ketahanan kepada benang agar tidak pecah saat proses weaving, selain itu juga berguna untuk memberikan efek "jatuh" dravery karena kain mempunyai masa jenis yang tinggi. Serta meningkatkan daya tenun.

Sizing

Warping

Memindahkan benang dari gulungan bobbin atau chese atau cones ke dalam gulungan besar (beam) dengan arah sejajar serta jumlah dan panjang benang yang sudah ditentukan. Selanjutnya benang ini akan dijadikan benang lusi (warp) yaitu benang yang searah dengan arah panjang kain.

Sizing

Memberikan lapisan kanji atau film kepada benang agar lebih kuat sehingga tidak mudah putus saat dilakukan proses berikutnya. Pengkajian ini dilakukan khususnya pada benang non twist atau low twist.

Beaming

Benang dari proses warping ataupun proses sizing selanjutnya digabungkan dari beberapa beam untuk menjadi beam lusi. Gabungan ini bisa dari jenis benang yang sama atau jenis benang yang berbeda sesuai dengan design yang diperuntukkan.

Drawing In

Adalah proses pencucukan dimana benang-benang dimasukkan ke dalam dropper, gun dan sisir sesuai dengan jenis anyaman kain yang diinginkan. Proses ini memerlukan kehati-hatian karena dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu yang cukup lama terutama untuk anyaman fancy (anyaman hias).

Weaving

Adalah proses pertenunan, dimana benang pakan disilangkan dengan benang lusi sehingga teranyam (menjadi anyaman). Secara umum proses ini terdiri dari 5 Tahap, yaitu penguluran lusi (let off motion), pembukaan mulut lusi, (shedding motion) peluncuran benang pakan (weft insertion) pengetekan (beating motion) dan yang terakhir (take up motion).

Greige Inspecting

Proses memeriksa atau memberikan grade kualitas kain hasil tenun, bagian yang diperiksa meliputi kualitas fisik (misal salah anyaman, pakan pecah, pakan putus, lusi putus, neps dll) serta kualitas daya serap warna (dyeability) seperti lusi campur, kerataan warna barre dll. Proses pemeriksaannya dilakukan berdasarkan SOP serta standard yang ditentukan.

Dyeing Finishing

Open Greige

Membuka gulungan greige serta menyambungkan dengan gulungan yang lain sehingga menghasilkan panjang tertentu dalam 1 batch (satuan pencelupan). Biasanya 1 batch sama dengan 600yrd (10 s/d 12 gulung). Yang harus diperhatikan dalam proses ini diantaranya adalah kesamaan corak serta lebar greige serta kualitas sambungan harus rata dan rapi. Setelah itu dimasukkan ke dalam roda.

Washing

Setelah dilakukan pembukaan greige maka proses selanjutnya adalah proses pencucian (washing) yang bertujuan untuk menghilangkan kanji, lemak serta kotoran yang melekat pada kain. Yang harus diperhatikan adalah penanganan kain dalam proses ini harus disesuaikan dengan karakteristiknya agar proses dapat menghasilkan kain yang benar benar bersih sehingga siap untuk proses selanjutnya.

Drying

Kain yang masih basah setelah proses washing harus dikeringkan di dalam mesin drying untuk mendapatkan kain yang benar-benar kering sehingga berat kain dapat diketahui secara tepat dan akurat. Pengukuran berat ini dimaksudkan untuk dapat menentukan berat chemical ataupun dyestuff yang harus digunakan.

Dyeing

Adalah proses pencelupan atau pewarnaan sesuai dengan target warna yang diinginkan. Masing-masing warna akan menentukan apa saja zat warna atau chemical yang akan digunakan serta komposisinya masing-masing, selain itu yang ikut mempengaruhi adalah SPC (Standard Process Condition) yang meliputi besaran temperature, waktu serta parameter lainnya.

Middle Inspect

Proses pemeriksaan kain hasil celup, meliputi kesesuaian warna Serta parameter fisik kain yang lain, tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan kain hasil celup apakah dapat dilakukan proses lanjut atau harus diperbaiki terlebih dahulu, permasalahannya yang diketahui lebih awal tentu akan mengurangi cost akibat kesalahan tersebut.

Resin Finish

Memberikan efek pegangan atau handfeel sesuai yang diharapkan (lembut, keras, kering, bulky dll)serta mempunyai fungsi tambahan seperti anti air, anti bakteri quick absorber, fire retardant, aroma terapy, Teflon dll.

Final Setting

Proses curing atau pemantapan dengan dilakukan proses pemanasan tinggi sehingga karakteristik kain yang meliputi dimesi, density serta karakteristik lain yang dikerjakan diproses sebelumnya menjadi perkamen.

Final Inspecting

Proses pemeriksaan kualitas akhir produk yang meliputi QC Lab untuk beberapa parameter antara lain fastness, kekuatan tarik, slippage, density, shrinkage dll, kualitas disik seperti neps, crease mark, creasing, flek, bowing, skewing dll, serta kualitas warna dan handfeel.